Adi adalah salah satu putra dari Butta Salewangan,ia lahir di Ujungpandang tanggal 08 Mei 2000. Adi sekrang tinggal di Maros daerahnya di juluki sebagai Butta salewangan.
Di sana Adi tinggal bersama kakek dan neneknya,sedangkan orantuanya sekarang tinggal di Watampone,tapi Takbir juga sering ke bone jika liburan telah tiba. Takbir sekarang sudah bersekolah di salah satu sekolah yang terbaik di Kabupaten Maros yaitu SMP 2 Maros dan menduduki bangku kelas VIII.
Ardinsyah Adibullah nama lengkapnya ia adalah satu-satunya aktivis cilik yang suka mengkritik,mengoceh,dan menegur para wakil rakyat baik lewat dunia sosila media maupun secara langsung.
Pada suatu hari Adi berjalan keliling kota ia memandang senja dan sambil berkata
“betap indah negeri ini, harumnya bagai bunga mawar dan sejuknya dikelilingi oleh bentangan pepohonan di setiap sisi”.
Setelah itu Adi kembali berjalan ke tampat lain dan melihat sepasang ada di sebuah naungan pohon yang indah sambil memeluk satu sama lain, Adi tersenyum dan menggelengkan kepalanya,dan bertanya pada pasangan itu.
“sudah maki menikah? Kenapa di pegang anuta? tanya Adi.
“belumpi , kenapako anak kecil pergi mako dari sini!" balas sang cowok itu.
Adi pun bergegas menghindari pasangan itu yang melakukan hal yang tak senonoh. Adi berpikir mereka mungkin tak mengerti arti kehidupan sehinggaapa yang mereka lakukan adalah dosa. Adi kemudian kembali berjalan ke tempat-tempat yang lebih indah.
Tak lama kemuadian yang menemukan teman se bayanya yang sedang minum minuman yang beralkohol dan merokok. Mereka melakukan hal yang tak semestinya mereka lakukan. Adi pun menghampirinya dan menegurnya dengan perlahan.
“hmm sepertiji kapa itu teh gelas di' di minum “ kata AdiAkhirnya perkelahian pun di mulai Adi melawan tiga pemabuk sedangkan dirinya hanya sendiri. Tapi dengan kemampuan yang keras dari pancat silat yang dimiliki oleh Adi membuat tiga orang itu tumbang tanpa ampun.
“siapako nah nda ku kenal ko jangan kurang ajar nahh” kata salah satu teman yang lagi mabuk
“yah oke, saya cuma bertanya,. nda di cariko sama mamanu’ ” balas Adi
“mau main-main ko di’ kurang ajar”marah salah seorang gerombolan pemabuk itu.
“Kenapami? sadar maki wae hidup ini singkat teman berubah maki sendiri!” tegas Adi
“iye ampun ma” jawab tiga orang itu dengan nada meminta ampun.
Sambil membersihkan badannya Adi pun bergegas untuk kembali melanjutkan perjalanannya untuk menghirup udara keras di Butta Salewangang. Keesokan harinya Aadi kembali melangkahkan kakinya sambil menatap manusia yang sedang memulai aktivitasnya demekian denganAdi,ia juga menggandeng tas sekolahnya untuk kembali mengais ilmu untuk masa depan.